Cerita / Fakta

Dua Orang Asing


Love Mom

Keberuntungan akan menjauh dari kemurungan. Tetaplah bersemangat. Hal-hal yang baik akan mendatangi kita dan kita akan mendatangi hal-hal yang baik.

~ GLORIE ABELHAS

Hidupku telah dipenuhi saat-saat jenaka– peristiwa-peristiwa untuk ditertawakan dalam obrolan dimeja makan bersama teman-teman. Aku memperhatikan bahwa sering kali kisah-kisah hidupku dimulai dengan kata-kata ” Tebak apa yang telah terjadi padaku”, dilanjutkan dengan kisah-kisah kencan yang berantakan atau situasi yang memalukan. Meski lucu dan menghibur, peristiwa-pristiwa itu tidak berdampak besar atau berperan penting sedang menuju ke arahku pada suatu hari yang lembab di bulan Juli ketika mobilku mogok di St. Joseph, Michigan.

          Tujuh minggu sebelum peristiwa ini, aku meninggalkab Michigan setelah meninggalkan pekerjaan yang tidak berarti, menuju Colorado untuk memulai hidaup dan karier baru di usia 26 tahun. Aku sungguh-sungguh merasa bahwa ini adalah kesempatanku untuk membuka jalanku di dunia ini—menjalani impian bekerja dengan anka-anak YMCA di Colorado Springs.

         “Hidup baru” impian ini tidak pernah terjadi. Aku malah mengahbiskan empat dari tujuh minggu itu dalam keaadan sakit sebelum menghadapi kenyataan bahwa ketinggian Colorado tidak cocok untuk asmaku. Terpaksa meninggalkan apa yang kuanggap sebagai hidup baru yang mengembirakan, aku menghadapi realita yang tidak menyenangkan untuk kembali ke kehidupan biasa di Michigan dimana statusku akan berbunyi : wanita  26 tahum, menganggur tinggal dirumah orangtua, dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan hidupnya.

         Mengemudikan mobil 1.4000 mil seorang diri, sakit, dan murung, adalah hal yang tidak menyenangkan, meskipun kata “tidak menyenangkan” itu tidak benar-menar menggambarkan betapa buruknya situasinya. Terus-terusan sesak napas dan perasaan berat yang menyakitkan di paru-paru membuatku mengantuk.

          Rasa lega muncul ketika aku mencapai perbatasan Michigan sekitar pukul 22.00. Karena lelah dan masih mengahadapi empat jam perjalanan, aku berhenti dikota St. Joseph, menyewa kamar disebuah motel, dan langsung tidur. Aku tidak memperhatikan bahwa kipas angin pendingin mobilku masih menyala ketika aku berjalan memasuki hotel. Aku baru mengetahuinya ketika mesin mobilku tidak mau menyala keesokan harinya.

          Disaat itu, ditempat parkir motel, aku ingin menangis. Aku ingin berteriak. Di atas semua stress medis dan mental yang menimpaku selama tujuh minggu terakhir, sekarang aku tidak hanya harus menangani keruntuhan fisik, tetapi juga keruntuhan mobilku. Aku hanya ingin pulang. PULANG!. Tetapi ternyata aku ada disini–mogok, sakit, lelah, kesal karena harus meninggalkan kesempatan, dan kesal kepada dunia. Aku dibesarkan dengan mendengar orang mengatakan. “Tuhan tidak pernah memberi lebih banyak daripada yang bisa kita tangani”. Tetapi pada saat iru sepertinya Tuhan lebih senang menembus batas.

          Setelah diderek ke agen terdekat, aku menunggu diruang tunggu untuk dua jam perbaikan. Saat itulah aku mulai mengobrol dengan seseorang wanita tengah baya yang duduk beberapa kurisi jauhnya dariku. Dia memiliki wajah yang ramah dengan garis-garis kebijaksanaan yang lembut serta tampilan keibuan yang ramah.

Jadi mobilmu perlu diperbaiki?” tanyanya dengan suara khawtir. Aku kira dia bisa melihat gurat frustasi diwajahku.

Ya,” kataku sambil menarik napas. “Mesin mobilku tidak mau menyala. Aku tidak tahu apa yang terjadi.” Aku menyandar ke kursi, menyandarkan kepalakuke tembok kosong dibelakangku dan memandangi lampu-lampu neon yang membosankan dilangit, merenungkan betapa lama aku harus duduk di situ.

          Dan saat itulah, tanpa aku sadari dan duga, dan di saat yang paling ganjil, momenku yang paling bermakna mulai menguak. Momen itu dimulai dengan normal ketika aku dan si wantita yang ramah itu mulai mengobrol. Ia menanyakan apa yang terjadi pada mobilku. Aku menanyakan hal yang sama, kemudian kami memasuki obrolan yang santai dan nyaman—hal-hal yang kita obrolkan dengan orang asing di ruang tunggu, seperti liburan, riwayat cuaca Michigan, dan tempat-tempat makan. Kemudian perbincangan beralih ke hal-hal yang pribadi. Dia berbicara tentang perasaan bersalahnya saat memikirkan untuk menempatkan ibunya yang berusia 85 tahun kerumah perawatan lansia. Aku mencoba bersimpati dan menceritakan bagaimana orangtuaku, yang berusia enam puluhan, bicara tentang asuransi untuk berjaga-jaga jika suatu saat mereka membutukan perawatan dirumah lansia. Kami mengobrol tentang hidup-hidup yang nyata. Kami mengobrol tentang perjalananku ke Colorado, tentang asmaku, rumahnya, pensiun suaminya, pensiun orangtuaku.

Mobil Anda sudah siap, Bu,” kata manajer perbaikan kepada wanita itu.

Oh, terima kasih,” katanya

          Dia berdiri dan aku tersenyum padanya. Dia mengucapkan selamat berpisah dan mengharapkan yang terbaik bagiku sambil memungut tas dan kunci mobilnya dari kursi di sebelahku. Tetapi ketika berjalan menjauh, dia ragu dan berpaling kembali kepadaku.

Aku harus mengatakan sesuatu kepadamu,” katanya, dan aku bisa melihat ekspresi serius diwajahnya. Kilauan di mata birunya sedikit meredup ketika dia sekilas memandang lantai lalu memandang lurus ke arah mataku.

Putriku meninggal beberapa tahun yang lalu. Sampai saat ini masih sulit rasanya melakukan hal-hal yang yang paling sederhana sekalipun.” Dia menelan ludah menarik napas dan melanjutkan, “Tetapi sesekali aku bertemu seseorang yang mengingatkanku pada dia, dan hari ini kau sangat mengingatkanku padanya.” Dia tersenyum mengenang dan melanjutkan “Aku percaya kadang-kadang Tuhan menempatkan seseorang dijalan untuk mengingatkanku tentang dia dan menunjukan bahwa putriku masih ada disini dan aku bisa melewati semua ini. Aku sangat menikmati mengobrol denganmu hari ini.” Sebuah senyum yang tulus menghias wajahnya. “Sampai dirumah nanti, aku ingin kau memeluk orangtuamu. Mereka sungguh beruntung memilikimu.”

          Aku menelan ludah. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab. Aku merasa airmata juga menggenangi mataku dan aku hanya bisa menggumam lemah.

Oh, astaga, terima kasih.”

          Lidahku kelu, aku bingung, dan terutama sangat sedih. Aku begitu tersentuh oleh apa yang dikatakannya, begtu tersentuh oleh kisah putrinya dan ketulusanya. Biasanya aku orang yang menyembunyikan prasaan, tetapi hari itu aku berdiri dan memeluknya dan berkata,

Aku juga senang mengobrol dengan anda,” dan aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

          Beberaapa jam kemudian, aku memasuki jalan menuju rumah orangtuaku. Ibuku keluar dengan senyum lebar yang mengundang dan dia merangkulku–rangkulan hangat yang penuh cinta dan kehangatan yang hanya bisa diberikan oleh seorang ibu. Aku sudah tiba dirumah. Aku memeluk ibuku erat-erat. Sejak hari itu aku tidak pernah mempertanyakan hal-hal buruk, hal-hal gila, hal-hal lucu, atau apa pun kadang-kdang terjadi padaku. Dan yang pasti aku tidak pernah bertanya ” Mengapa harus aku?” ketika mobilku mogok lagi

Maggie Kaler

sumber : Chiken Soup for the Soul, best seller book “Think Positive”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s